Insightkaltim.com Penajam, — Di tengah pesatnya pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, kekhawatiran akan memudarnya budaya lokal turut mengemuka. Namun, DPRD Penajam Paser Utara (PPU) memastikan bahwa warisan budaya tak akan menjadi korban dari modernisasi.
Sekretaris Komisi II DPRD PPU, Jamaluddin, menyuarakan optimisme bahwa budaya lokal tetap bisa lestari jika dijaga secara kolektif, bukan hanya oleh pemerintah, tapi juga oleh masyarakat.
“Kita sudah punya Perda yang mengatur pelestarian budaya dan kearifan lokal. Tinggal bagaimana kepala daerah dan masyarakat menjalankannya secara konsisten,” ujar Jamaluddin, Kamis (17/4/2025).
Menurutnya, perubahan adalah keniscayaan, apalagi dengan hadirnya IKN. Namun, nilai-nilai budaya bisa tetap tumbuh jika dijadikan bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya sekadar seremoni tahunan.
Salah satu contoh nyata pelestarian budaya adalah Festival Adat Paser Nondoi, yang digelar setiap tahun pada Oktober–November. Acara ini merupakan bentuk ritual adat membersihkan kampung sekaligus doa untuk keselamatan dan kesejahteraan warga.
“Nondoi itu bukan sekadar festival, tapi napas sejarah dan spiritualitas masyarakat PPU. Tradisi ini harus terus dikenalkan ke generasi muda,” tambah Jamaluddin.
DPRD PPU menekankan pentingnya menjadikan budaya sebagai identitas dan kekuatan daerah, bukan hanya peninggalan masa lalu. Karena itu, mereka mengajak semua elemen untuk terlibat aktif—dari komunitas seni, sekolah, hingga dunia usaha—dalam menjaga budaya tetap hidup di tengah pembangunan.
“Modern bukan berarti melupakan akar. Justru dengan budaya yang kuat, kita bisa berdiri kokoh di tengah perubahan zaman,” pungkasnya. (adv/DPRD PPU)





