Insightkaltim.com, PENAJAM – Perkembangan dunia pendidikan mengalami berbagai tantangan, sehingga perlu mengedepankan pembentukan karakter anak didik demi memproteksi anak dari pengaruh luar.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Andi Singkerru, mengatakan meskipun saat ini 99 persen pembelajaran di sekolah lebih mengacu kepada materi pelajaran, namun hendaknya disisipkan dengan pencerahan-pencerahan melalui ceramah agama maupun motivasi kepada anak didik untuk berkelakuan yang baik.
“Ada banyak pengaruh buruk seperti adanya berita-berita mengenai begal, atau pengaruh dari youtube dan lain sebagainya. Makanya para guru kita, meskipin 99 persen pembelajaran itu berupa materi, maka sebaiknya disisipkan dengan ceramah, debriefing secara spiritual,” ujar Andi Singkerru, dalam suatu kesempatan belum lama ini.
Menurutnya, para guru memang harus punya kompetensi, kemudian harus bisa ditiru dan menjadi contoh yang baik bagi anak didiknya. Sebab ada beberapa contoh kasus yang bisa dikatakan sebagai oknum yang memperburuk citra para guru yang benar-benar ingin mengabdi bagi bangsa, negara dan masyarakat untuk mencerdaskan anak bangsa.
“Kalau dulu kita diajari, pasti awalnya diceramahi dulu. Kalau sekarang ini, pembelajaran selama 45 menit itu langsung materi-materinya apa saja. Kemudian sub temanya apa. Nah ini memang okelah, tapi ini kan bagian dari pembelajaran yang memang harus focus. Tetapi kita harus bisa mendidik, karena guru mencakup tiga hal, yakni mendidik, mengajar dan melatih. Jangan hanya cuma dua hal saja yang diberikan kepada anak didik, mendidiknya tidak ada,” katanya.
Ia kemudian mencontohkan, sudah banyak kasus yang terekam di medi sosial mengenai anak-anak SMA yang tidak dapat mengingat Pancasila secara berurutan. Atau bahkan ada anak yang tidak bisa membaca padahal usia dan kelasnya sudah mewajibkan anak didik tersebut mampu membaca dan menulis.
“Ya Allah jadi kasihan ya. Nah bahkan di PPU ini ada anak sekolah SMP itu belum bisa baca,” katanya.
Dengan demikian, ia meminta agar para guru harus bertanggung jawab terhsadap kondisi anak-anaknya. Menurutnya Kurikulum Merdeka buan berarti memaksa anak didik untuk bisa naik kelas secara terus menerus namun melupakan tugas dan tanggung jawab para guru untuk mendidik anak menjadi lebih baik.
“Saya sampai katakana, manakala anak didik belum bisa baca sampai kenaikan kelas, jangan naikkan kelas dulu. Bayangkan kalau naik kelas terus sampai SMA belum bisa baca. Wah masalah besar,” ungkapnya.
Ia juga mendorong sekolah yang lain untuk menerapkan hal yang sama. Bila menemukan murid atau siswa yang belum bias membaca, maka guru bertanggung jawab untuk memberikan pembelajaran secara intensif dalam dua bulan harus sudah bisa membaca.
Tentunya hal tersebut juga beraitan dengan pola asuh keluarga anak didik. Sehingga ia berharap semua komponen masyarakat lebih peduli dengan pendidikan generasi muda PPU agar lebih baik dan terus ditingkatkan di masa depan.(adv/kominfoppu)





