Insightkaltim.com, PENAJAM –Diskan PPU Dorong Peningkatan Kapasitas Pokdakan Melalui Kunjungan ke Kolam Nilasa di Yogyakarta. Kegiatan ini diikuti oleh 30 peserta Bimbingan Teknis (Bimtek) yang berasal dari tujuh Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) di Benuo Taka, PPU, dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) dalam bidang perikanan budidaya.
Kepala Diskan PPU, Rozihan Azward, mendampingi para peserta selama kunjungan yang juga merupakan hasil kolaborasi dengan Balai Pengembangan Teknologi Perikanan Budidaya (BPTPB) Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP).
Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan Lingkungan, Musakkar, menjelaskan bahwa tujuan dari kunjungan ini adalah untuk memberikan gambaran yang jelas tentang teknik budidaya ikan Nilasa. “Para peserta diharapkan dapat memahami lebih baik materi yang telah disampaikan sebelumnya,” ujarnya melalui sambungan telepon pada hari yang sama.
Selama Bimtek, peserta diberi pengetahuan tentang berbagai media budidaya, seperti kolam beton dan metode bioflok dengan terpal bulat. Musakkar juga menyoroti isu-isu strategis dalam budidaya ikan, termasuk efisiensi biaya pakan dan pengelolaan kualitas air. Salah satu fokus utama adalah penerapan metode bioflok, yang dianggap sebagai solusi untuk daerah dengan keterbatasan lahan budidaya akibat alih fungsi lahan.
“Metode bioflok dapat membantu menjaga kualitas benih ikan dan mengurangi penggunaan pakan yang berlebihan,” jelas Musakkar. Namun, ia juga mengingatkan bahwa penerapan metode ini memerlukan pengawasan ketat, terutama terkait dengan ketersediaan oksigen yang memadai, sehingga pasokan listrik yang stabil menjadi sangat penting.
Selain itu, metode bioflok juga memanfaatkan mikroorganisme sebagai pakan alami yang dapat mengurangi kebutuhan pakan dibandingkan dengan penggunaan kolam beton. Selama kunjungan, para peserta diajak untuk mengamati lokasi budidaya yang telah berhasil memproduksi ikan Nilasa dengan sukses.
Musakkar menambahkan, “Perawatan kolam beton mirip dengan pengelolaan ikan di alam, namun sistem bioflok memiliki masa produksi yang lebih cepat—sekitar tiga hingga empat bulan dari bibit hingga panen.” Ia juga menyatakan bahwa hasil analisis menunjukkan penerapan bioflok lebih menguntungkan dalam hal efisiensi biaya dan waktu.
Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan para pembudidaya di Kabupaten PPU dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh untuk meningkatkan hasil budidaya mereka. (adv/kominfopenajam)





