Insightkaltim.com, PENAJAM – Program budi daya ikan air tawar dengan memanfaatkan lahan pekarangan, ternyata sangat cocok diterapkan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).
Kepala Bidang (Kabid) Perikanan Budi Daya dan Lingkungan, Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten PPU, Musakkar, mengatakan selama ini persoalan air bersih yang mengandalkan metode tanah hujan, menjadi tantangan bagi pembudidaya ikan air tawar di Kabupaten PPU, khususnya bagi skala industri.
Namun hal itu tidak berlaku bagi pembudidaya yang memanfaatkan lahan pekarangan rumahnya. “Kalau di pekarangan masih bisa terpenuhi airnya dengan kondisi air yang minim,” ujar Musakkar, mewakili Kepala Diskan Kabupaten PPU, Rozihan Azward, ditemui belum lama ini.
Menurutnya konsep budi daya pekarangan digaungkan karena sektor perikanan Benuo Taka memang sangat dipengaruhi faktor alam. Khususnya sumber air minim dan masih mengandalkan metode tadah hujan.
Ia juga menyampaikan bahwa di Kalimantan Timur (Kaltim), tingkat keasaman air sangat tinggi. “Itu juga menjadi tantangan. Sehingga air itu harus diolah,” ucapnya.
Ia menyebut selama ini air yang digunakan untuk budi daya ikan air tawar di pekarangan sudah melalui tahapan pengolahan air. Musakkar juga memastikan bahwa kualitas air terus dijaga selama proses budi daya.
Dalam kesempatan itu, Musakkar turut menyampaikan beberapa konsep lain yang juga memiliki banyak kelebihan. Misalnya budi daya ikan air tawar dalam ember. Konsep itu sering digaungkan pada saat pandemi Covid-19.
Di mana budi daya menggunakan ember dan di bagian permukaan air, biasanya warga sekalian menanam tanaman sayuran seperti kangkung.
Idealnya, dalam satu ember dengan ukuran volume air satu meter kubik, dapat membudidayakan 25 sampai 50 ekor ikan nila. “Cuma mungkin kekurangannya, jumlah ikan yang dibudidayakan sedikit, karena keterbatasan tempatnya,” pungkasnya.(adv/kominfoppu)





