Insightkaltim.com, PENAJAM – Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) yang diikuti oleh 30 petani tambak, terutama anggota dari tujuh Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan). Kegiatan yang berlangsung dari 8 hingga 11 Oktober 2024 ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai budidaya Ikan Nilasa (Nila Salin).
Materi pelatihan disampaikan oleh Balai Pengembangan Teknologi Perikanan Budidaya (BPTPB) Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dengan fokus utama pada tantangan dalam budidaya Nilasa dan pengelolaan kesehatan ikan. Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan Lingkungan Diskan PPU, Musakkar, menyatakan bahwa selain memperkenalkan teknik budidaya, peserta juga diberi informasi terkait penyakit yang dapat mempengaruhi pertumbuhan Nilasa.
“Alhamdulillah, Nilasa tergolong tahan terhadap penyakit, berbeda dengan ikan nila air tawar yang lebih rentan. Namun, tetap perlu pemahaman tentang cara pengelolaan kesehatan ikan dan pengendalian penyakitnya,” ujar Musakkar saat ditemui pada Jumat (12/10/2024), mendampingi Kepala Diskan PPU, Rozihan Azward.
Bimtek kali ini menghadirkan narasumber Ahli Madya Pejabat Fungsional Pengendali Hama dan Penyakit Ikan (PHPI) dari Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan BPTPB DIY, Astuti, yang menjelaskan berbagai jenis penyakit yang biasa menyerang ikan air tawar, seperti protozoa, metazoa, saprolegniasis, dan bakteriosis. Untuk mengatasi penyakit tersebut, peserta diberikan berbagai metode pengobatan, termasuk penggunaan disinfektan.
Pengendalian penyakit dilakukan dengan menjaga suhu air di bawah 29 derajat Celsius, meningkatkan frekuensi pergantian air, dan memberikan pengobatan berupa perendaman ikan menggunakan larutan garam dapur atau batang pisang segar. “Metode ini bertujuan untuk mencegah penyebaran penyakit dan mengurangi kematian ikan, yang dapat berdampak pada kerugian petani tambak,” jelas Musakkar.
Namun, Musakkar menegaskan bahwa varietas Nilasa memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap penyakit, dengan tingkat kelangsungan hidup yang mencapai 90 persen. “Pembudidaya kita sangat antusias karena Nilasa tidak hanya tahan penyakit, tetapi juga memiliki potensi pasar yang menjanjikan,” imbuhnya.
Dengan pelatihan ini, diharapkan para petani tambak di PPU dapat mengoptimalkan budidaya ikan Nilasa dan mengurangi kerugian akibat penyakit, yang pada akhirnya dapat mendongkrak perekonomian sektor perikanan di daerah tersebut. (adv/kominfoppu)





