Insightkaltim.com, Jakarta – Harga emas dunia kembali mencatat penguatan di tengah meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, serta sikap wait and see investor menjelang rilis data inflasi utama Amerika Serikat yang diperkirakan akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga ke depan.
Pada perdagangan Kamis (19/2/2026), harga emas di pasar spot naik 0,39 persen dan bertengger di level US$ 4.996,53 per ons troi. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April juga menguat tipis 0,11 persen ke posisi US$ 5.014,8 per ons troi.
Penguatan ini mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai di tengah eskalasi ketegangan geopolitik. Presiden AS Donald Trump sebelumnya melontarkan peringatan keras kepada Iran agar segera mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya. Ia bahkan mengisyaratkan adanya tenggat waktu sekitar 10 hari, sebelum Washington mengambil langkah tegas.
Senior Market Strategist RJO Futures, Daniel Pavilonis, menilai pergerakan emas saat ini masih dibayangi volatilitas tinggi. Menurutnya, pasar belum menemukan arah yang solid meskipun prospek jangka panjang logam mulia tersebut tetap menjanjikan.
“Emas bergerak fluktuatif dengan kecenderungan sideways. Ketegangan geopolitik menjadi faktor pendukung utama, tetapi masih ada ruang koreksi akibat tekanan dari faktor ekonomi global,” ujarnya.
Dari sisi kebijakan moneter, risalah rapat The Federal Reserve akhir Januari memperlihatkan perbedaan pandangan di internal bank sentral AS. Sejumlah pejabat membuka peluang kenaikan suku bunga apabila tekanan inflasi bertahan tinggi, sementara kelompok lain mendorong pelonggaran kebijakan jika laju inflasi mulai melandai.
Data ketenagakerjaan terbaru AS turut memengaruhi sentimen pasar. Klaim pengangguran mingguan tercatat turun signifikan menjadi 206 ribu, jauh di bawah perkiraan. Kondisi ini mengindikasikan pasar tenaga kerja yang masih solid, sekaligus mempersempit ruang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
Investor kini memusatkan perhatian pada rilis Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index yang dijadwalkan pada Jumat (21/2/2026). Data ini menjadi acuan utama The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneternya. Berdasarkan proyeksi CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga pertama tahun ini berpotensi terjadi pada Juni 2026, yang berpeluang menjadi katalis positif bagi harga emas.
Sementara itu, pergerakan logam mulia lainnya menunjukkan tren beragam. Harga perak spot melonjak 1,3 persen ke US$ 78,2 per ons, melanjutkan reli kuat sejak sesi sebelumnya. Di sisi lain, platinum terkoreksi 0,74 persen menjadi US$ 2.064,17 per ons, sedangkan palladium tertekan lebih dalam dengan penurunan 1,79 persen ke US$ 1.683,91 per ons.(ant)





